FADHILAH DAN
KEUTAMAAN RATIB
ياايّها الّذين امنوا اذكرواالله ذكرا كثيرا وسبّحوا
بكرة واصيلا
Wahai orang-orang yang beriman
perbanyaklah ingatan kamu kepada Allah SWT dan pujilah Dia pagi dan petang
(Al-Ahzab : 41 )
·
Makna Ratib
Kata Ratib diambil dari kata
Rotaba Yartubu Rotban Rutuuban atau Tarottaba Yatarottabu Tarottuban, yang
berarti tetap atau tidak bergerak. Jadi kata Ratib menurut Lughot (bahasa)
artinya kokoh atau yang tetap. Sedangkan menurut istilah, Ratib diambil dari kata
Tartiibul-Harsi Lil-Himaayah (penjagaan secara rutin untuk melindungi sesuatu
atau seseorang).
Apabila disebuah tempat ada bala
tentara yang berjaga guna melindungi masyarakat, maka mereka disebut Rutbah,
dan jika yang berjaga satu orang maka disebut Ratib, para ulama berpendapat
makna Ratib adalah kumpulan atau himpunan ayat-ayat Al-qur’an dan untaian
kalimat-kailmat dzikir yang lazim diamalkan atau dibaca secara berulang-ulang
sebagai salah satu cara untuk bertaqorrub (mendekatkan diri kepada Allah SWT)
RATIB AL-ATHTHAS
·
Keutamaan
Ratib Al-Athtas
Ratib Al-Aththas ini dikarang oleh al-Habib Umar bin Abdurrahman
al-Attas dan sekarang telah berusia kira-kira 400 tahun. Ratib yang dimaksudkan
di sini berasal dari perkataan (rattaba) berarti mengatur atau menyusun. Ratib
adalah sesuatu yang tersusun, teratur dengan rapinya. Ratib al-Attas mengandung
zikir, ayat-ayat al-Quran dan doa-doa yang telah disusun oleh al-Habib Umar bin
Abdul Rahman al-Attas yang juga dibaca pada waktu-waktu yang tertentu. Istilah
Ratib digunakan kebanyakkan di negeri Hadhramaut dalam menyebut zikir-zikir
yang biasanya pendek dengan bilangan zikir yang sedikit (seperti 3, 7,
10, 11 dan 40 kali).
Ratib Al-Athtas yang dibari nama “Azizul Manl
Wafathul Babil Wisol” seperti dikatakan oleh Al-Habib Ali bin Hasan Al-Atthos
di dalam kitab Al-Qirthos bagian kedua juz pertama : “Ratib Habib Umar
merupakan hadiah yang tertinggi dari Allah bagi umat Islam melalui Habib Umar“.
Ketahuilah bahwa Ratib yang besar dan Hizib yang kokoh dan sumber yang murni
ini, yaitu Ratib Habib Umar Al-Atthos terkandung didalamnya rahasia-rahasia dan
Nur-Nur, manfaat yang besar, faedah-faedah yang luar biasa tinggi nilainya, dan
tak dapat diperkirakan batas kekuatan pemeliharaanya.
Al-Habib Ali bin Hasan Al-Atthos mengatakan sepengetahuan kami
Al-Habib Umar tidak ada sesuatu yang di tinggalkannya berupa bekas peninggalan
(seperti kitab atau masjid terkecuali Ratib ini) maka dengan jelas Ratib ini
diintisabkan kepada pribadinya langsung. Berkata
sebagian ulama ahli salaf, diantara keutamaan ratib ini bagi mereka yang tetap
mengamalkannya, adalah dipanjangkan umur, mendapat Husnul-Khatimah, menjaga
segala kepunyaannya di laut dan di bumi dan senantiasa berada dalam
perlindungan Allah. Bagi mereka yang mempunyai hajat yang tertentu, membaca
ratib pada suatu tempat yang kosong dengan berwudlu, mengadap kiblat dan
berniat apa kehendaknya, Insya-Allah dikabulkan oleh Allah. Para salaf berkata
Ratib amat mujarrab dalam menyampaikan segala permintaan jika dibacanya sebanyak
41 kali.
Diantara kelebihan
ratib ini adalah, ia menjaga rumahnya dan 40 rumah-rumah tetangganya dari
kebakaran, kecurian dan terkena sihir. As-Syeikh Ali Baras berkata: “Apabila
dibaca dalam suatu kampung atau suatu tempat, ia mengamankan ahlinya seperti
dijaga oleh 70 pahlawan yang berkuda. Ratib ini mengandungi rahasia-rahasia
yang bermanfaat. Mereka yang tetap mengamalkannya akan diampunkan Allah
dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di laut.” Bagi mereka yang terkena
sihir dan membaca ratib, Insya-Allah diselamatkan Allah dengan berkat Asma’
Allah, ayat-ayat al-Quran dan amalan Nabi Muhammad s.a.w.
Al-Habib Husein bin
Abdullah bin Muhammad bin Mohsen bin Husein al-Attas berkata: “Mereka yang mengamalkan ratib dan
terpatuk ular niscaya tidak akan terjadi apa-apa pada dirinya. Bagi orang yang
takut niscaya akan selamat dari segala yang ditakuti. Pernah ada seorang yang
diserang oleh 15 orang pencuri dan dia selamat.” Pernah datang satu
kumpulan mengadu akan hal mereka yang dikelilingi musuh. Al-Habib Husein
menyuruh mereka membaca ratib dan beliau jamin Insya-Allah mereka akan selamat.
Disebutkan di dalam kitab
al-Qirtas: “Telah menjadi tradisi bagi para sesepuh kami, khususnya tradisi
dari al-Habib Husein bin Umar membaca Ratib al-Attas adalah setelah solat
Isya’. Kebiasaan itu dilakukan oleh Habib Husein beserta
pengikut-pengikutnya secara turun-temurun kecuali di bulan Ramadhan. Adapun di
bulan Ramadhan bacaan ratib itu dibaca sebelum solat Isya’. Tetapi bagi yang
gemar berzikir banyak yang membaca ratib al-Attas ini di waktu pagi dan di
waktu sore, sebab di antara kalimat-kalimat yang dizikirkan ada zikir-zikir
yang disunnahkan untuk membacanya di waktu pagi dan di waktu sore seperti
tertera di dalam hadis-hadis Nabi s.a.w.
RATIB AL-HADDAD
·
Keutamaan Ratib Al-Haddad
Cerita-cerita yang dikumpulkan mengenai kelebihan Ratib Al-Haddad banyak
tercatat dalam buku Syarah Ratib Al-Haddad, antaranya:
Seorang yang mencintai keturunan Sayyid, berkata: “Suatu ketika saya berangkat dari negeri Ahsa’i menuju ke
Hufuf. Di perjalanan itu saya melihat kaum Badwi yang biasanya
merampas hak orang yang melintasi perjalanan itu. Saya pun berhenti dan duduk,
di mana tempat itu pula saya gariskan tanahnya mengelilingiku dan saya duduk di
tengah-tengahnya membaca Ratib ini. Dengan kuasa Allah mereka telah berlalu di
hadapanku seperti orang yang tidak melihat apa-apa, sedang aku melihat mereka.”
Apa yang diberitakan oleh seorang Arif Billah Abdul Wahid bin Subait
Az-Zarafi, katanya: Ada seorang penguasa yang kejam yang dikenal dengan
nama Tahmas yang juga dikenal dengan nama Nadir Syah. Tahmas
ini adalah seorang penguasa ajam yang telah menguasai banyak dari negeri-negeri
di sekitarannya. Dia telah menyiapkan tentaranya untuk memerangi negeri
Aughan. Sultan Aughan yang bernama Sulaiman mengutus seseorang
kepada Imam Habib Abdullah Haddad memberitahunya, bahwa Tahmas
sedang menyiapkan tentera untuk menyerangnya. Maka Habib Abdullah Haddad
mengirim Ratib ini dan menyuruh Sultan Sulaiman dan rakyatnya
membacanya. Sultan Sulaiman pun mengamalkan bacaan Ratib ini dan
memerintahkan tentaranya dan sekalian rakyatnya untuk membaca Ratib ini dengan
bertitah: “Kita tidak akan dapat dikuasai Tahmas kerana kita mempunyai
benteng yang kuat, yaitu Ratib Haddad ini.” Benarlah apa yang dikatakan Sultan
Sulaiman itu, bahwa negerinya terlepas dari penyerangan Tahmas dan
terselamat dari angkara murka penguasa yang kejam itu dengan berkah Ratib
Haddad ini.
Suatu pengalaman lagi dari Sayyid Awadh Barakat Asy-Syathiri Ba’alawi
ketika dia belayar dengan kapal, lalu kapal itu telah tersesat jalan sehingga
membawanya terkandas di pinggir sebuah batu karang. Ketika itu angin juga macet
tidak dapat menggerakkan kapal itu keluar dari bahaya. Kami sekalian merasa
bimbang, lalu kami membaca Ratib ini dengan niat Alloh akan menyelamatkan kami.
Maka dengan kuasa Allah SWT datanglah angin dan menarik kami keluar dari tempat
itu menuju ke tempat tujuan kami.
Maka kerana itu saya amalkan membaca Ratib ini. Pada suatu malam saya
tertidur sebelum membacanya, lalu saya bermimpi Habib Abdullah Al- Haddad
datang mengingatkanku supaya membaca Ratib ini, dan saya pun tersadar dari
tidur dan terus membaca Ratib Haddad itu.
Di antaranya lagi, apa yang diberitakan oleh Sayyid Ali bin Hassan, penduduk
Mirbath, katanya: “Sekali peristiwa aku tertidur sebelum aku membaca Ratib,
aku lalu bermimpi datang kepadaku seorang Malaikat mengatakan kepadaku: “Setiap
malam kami para Malaikat berkhidmat buatmu begini dan begitu dari
bermacam-macam kebaikan, tetapi pada malam ini kami tidak membuat apa-apa pun
karena engkau tidak membaca Ratib. Aku kemudian terjaga dari tidur lalu membaca
Ratib Haddad itu dengan serta-merta.
Setengah kaum Sayyid bercerita tentang pengalamannya: “Jika aku tertidur ketika aku belum
menyelesaikan bacaan Ratib Hadad, aku bermimpi melihat berbagai-bagai hal
yang mengherankan, tetapi jika sudah menghabiskan bacaannya, tidak bermimpi
apa-apa pun.”
Diantara yang diberitakan lagi, bahwa seorang pecinta kaum Sayyid,
Muhammad bin Ibrahim bin Muhammad Mughairiban yang tinggal di negeri
Shai’ar, dia bercerita: “Dari adat kebiasaan Sidi Habib Zainul Abidin
bin Ali bin Sidi Abdullah Haddad yang selalu aku berkhidmat kepadanya, yaitu
dia tidak pernah sekalipun meninggalkan bacaan Ratib ini. Tiba-tiba suatu malam
kami tertidur pada awal waktu Isya’, kami tidak membaca Ratib dan tidak
bersembahyang Isya’, semua orang termasuk Sidi Habib Zainul Abidin. Kami
tidak sadarkan diri melainkan di waktu pagi, di mana kami dapati sebagian rumah
kami terbakar. Kini tahulah kami bahwa semua itu berlaku karena tidak membaca
Ratib ini. Sebab itu kemudian kami tidak pernah meninggalkan bacaannya lagi,
dan apabila sudah membacanya kami merasa tenteram, tiada sesuatupun yang akan
membahayakan kami, dan kami tidak bimbang lagi terhadap rumah kami, meskipun ia
terbuat dari dedaunan korma, dan bila kami tidak membacanya, hati kami tidak
tenteram dan selalu kebimbangan.”
Saya rasa cukup dengan beberapa cerita yang saya sampaikan di sini mengenai
kelebihan Ratib ini dan anda sendiri dapat meneliti , sehingga Sidi Habib
Muhammad bin Zain bin Semait sendiri pernah mengatakan dalam bukunya
Ghayatul Qasd Wal Murad, bahawa roh Saiyidina penyusun Ratib ini akan
hadir apabila dibaca Ratib ini, dan di sana ada lagi rahasia-rahasia kebatinan
yang lain yang dapat dicapai ketika membacanya dan ini adalah mujarab dan
benar-benar mujarab, tidak perlu diragukan lagi.
Berkata Habib Alwi bin Ahmad, penulis Syarah Ratib Al-Haddad: “Siapa
yang melarang orang membaca Ratib ini dan juga wirid-wirid para salihin,
niscaya dia akan ditimpa bencana yang berat daripada Allah Ta’ala, dan hal ini
pernah berlaku dan bukan omong kosong.”
Berkata Sidi Habib Muhammad bin Zain bin Semait Ba’alawi di dalam
kitabnya Ghayatul Qasd Wal Murad: Telah berkata Saiyidina Habib
Abdullah Haddad: “Siapa yang menentang atau membangkang orang yang membaca
Ratib kami ini dengan secara terang-terangan atau disembunyikan pembangkangannya
itu akan mendapat bencana seperti yang ditimpa ke atas orang-orang yang
membelakangi zikir dan wirid atau yang lalai hati mereka dari berzikir kepada
Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman: “Dan barangsiapa yang berpaling dari
mengingatiKu, maka baginya akan ditakdirkan hidup yang sempit.” ( Thaha: 124 )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar