Kesurupan Jin dalam Pandangan Islam
Pertanyaan:
Bagaimana pandangan
dalam Islam mengenai orang kesurupan jin/setan. Dan status hukum orang yang berusaha
menyembuhkan.
Jawaban:
Manusia
terkait dengan fenomena kesurupan jin, terbagi menjadi dua golongan
:
1. Mereka yang
mempercayainya dan meyakininya. Itulah keyakinan umumnya kaum muslimin.
2. Mereka yang
mengingkarinya, dan menganggap itu bukan kesurupan jin. Keyakinan ini menjadi
salah stau prinsip aliran liberal, mengikuti pemahaman pendahulunya, sekte Mu’tazilah.
Untuk yang kedua ini tidak perlu dilirik, karena mereka lebih mengedepankan
akal dan logika sederhana, ketimbang dalil Alquran dan sunah.
Lalu
Bagaimana Islam Memandang?
Berikut
beberapa catatan yang bisa kita jadikan bahan pertimbangan untuk membuat
kesimpulan yang lebih benar :
Pertama, terdapat banyak dalil dari Alquran
dan hadis yang menggambarkan keberadaan penyakit kesurupan jin. Diantaranya,
1. Allah berfirman, menceritakan
keadaan pemakan riba ketika dibangkitkan,
الَّذِينَ
يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ
الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ
الرِّبَا
“Orang-orang
yang makan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang
kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian
itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual
beli itu sama dengan riba…” (QS. Al-Baqarah: 275)
Keterangan Ibnu Katsir,
أي لا يقومون
من قبورهم يوم القيامة إلا كما يقوم المصروع حال صرعه وتخبط الشيطان له ، وذلك أنه
يقوم قياماً منكراً ، وقال ابن عباس : آكل الربا يبعث يوم القيامة مجنوناً يخنق
“Maksud
ayat, pemakan riba tidak akan dibangkitkan dari kubur mereka pada hari kiamat
kecuali seperti bangkitnya orang yang kesurupan dan kerasukan setan. Karena dia
berdiri dengan cara tidak benar. Ibnu Abbas mengatakan, “Pemakan riba,
dibangkitkan pada hari kiamat seperti orang gila yang tercekik.” (Tafsir Ibn
Katsir, 1:708).
Terkait fenomena al-Qurtubi
menegaskan,
هذه الآية
دليل على فساد إنكار من أنكر الصرع من جهة الجن ، وزعم أنه من فعل الطبائع وأن
الشيطان لا يسلك في الإنسان ولا يكون منه مس
“Ayat ini
dalil tidak benarnya pengingkaran orang terhadap fenomena kesurupan karena
kerasukan jin. Mereka menganggap bahwa itu hanya murni penyakit badan.
Sedangkan setan tidak bisa mengalir di dalam tubuh tubuh manusia dan tidak bisa
merasuk ke dalam tubuhnya.” (Tafsir a-Qurtubi, 3:355)
2.
Disebutkan dalam hadis dari Abul Aswad as-Sulami, bahwa
diantara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
اللَّهُمَّ
إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَدْمِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ التَّرَدِّي، وَأَعُوذُ
بِكَ مِنَ الْغَرَقِ، وَالْحَرِيقِ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ يَتَخَبَّطَنِي
الشَّيْطَانُ عِنْدَ الْمَوْتِ…
“Ya Allah,
aku berlindung kepada-Mu dari tertimpa benda keras, aku berlindung kepada-Mu
dari mati terjatuh, aku berlindung kepada-Mu dari tenggelam dan kebakaran, dan
aku berlindung kepada-Mu dari keadaan setan merasuki badanku ketika mendekati
kematian…” (HR. Nasai 5533 dan dishahihkan al-Albani)
Al-Munawi
menjelaskan,
“…setan
merasuki badanku ketika mendekati kematian…”: dengan gangguan yang yang bisa
menggelincirkan kaki, merasuki akal dan pemikiran. Terkadang setan menguasai
seseorang ketika hendak meninggal dunia, sehingga dia bisa menyesatkannya dan
menghalanginya untuk bertaubat… (Faidhul Qadir, 2:148)
Kedua, kesurupan, dengan jin masuk
ke tubuh manusia adalah kejadian yang hakiki, kenyataan dan bukan khayalan.
Abdullah bin Imam Ahmad pernah
bertanya kepada ayahnya,
إنَّ قَوْمًا
يَزْعُمُونَ أَنَّ الْجِنِّيَّ لَا يَدْخُلُ فِي بَدَنِ الْإِنْسِيِّ
“Sesungguhnya
ada beberapa orang yang berpendapat, bahwa jin tidak bisa masuk ke badan
manusia.”
Imam Ahmad menjawab :
يَا بُنَيَّ
يَكْذِبُونَ هُوَ ذَا يَتَكَلَّمُ عَلَى لِسَانِهِ
“Wahai
anakku, mereka dusta. Jin itulah yang berbicara dengan lisan orang yang
dirasuki.”
Setelah membawakan keterangan ini,
Syaikhul Islam memberi komentar,
وَهَذَا
الَّذِي قَالَهُ أَمْرٌ مَشْهُورٌ فَإِنَّهُ يَصْرَعُ الرَّجُلَ فَيَتَكَلَّمُ
بِلِسَانٍ لَا يَعْرِف مَعْنَاهُ وَيُضْرَبُ عَلَى بَدَنِهِ ضَرْبًا عَظِيمًا لَوْ
ضُرِبَ بِهِ جَمَلٌ لَأَثَّرَ بِهِ أَثَرًا عَظِيمًا. وَالْمَصْرُوعُ مَعَ هَذَا
لَا يُحِسُّ بِالضَّرْبِ وَلَا بِالْكَلَامِ الَّذِي يَقُولُهُ
“Apa yang
disampaikan Imam Ahmad adalah masalah yang terkenal di masyarakat. Orang yang
kerasukan berbicara dengan bahasa yang tidak bisa dipahami maknanya. Terkadang
dia dipukul sangat keras, andaikan dipukulkan ke onta, pasti akan menimbulkan
sakit. Meskipun demikian, orang yang kesurupan tidak merasakan pukulan dan
tidak menyadari ucapan yang dia sampaikan.”
Beliau juga menegaskan,
ومن شاهدها
أفادته علماً ضرورياً بأن الناطق على لسان الإنس ، والمحرك لهذه الأجسام جنس آخر
غير الإنسان
Orang yang
menyaksikan kejadian kesurupan, dia akan mendapatkan kesimpulan yang meyakinkan
bahwa yang bicara dengan lidah manusia dan yang menggerakkan badannya adalah
makhluk lain, selain manusia (Majmu’ al-Fatawa, 24:277).
Ketiga, ulama sepakat, jin bisa merasuki
tubuh manusia
Hal ini sebagaimana ditegaskan
Syaikhul Islam dalam fatwanya,
وليس في أئمة
المسلمين من ينكر دخول الجن بدن المصروع وغيره، ومن أنكر ذلك وادعى أن الشرع يُكذب
ذلك فقد كذب على الشرع، وليس في الأدلة الشرعية ما ينفي ذلك
“Tidak ada
satupun ulama islam yang mengingkari jin bisa masuk ke badan orang yang
kesurupan dan lainnya. Orang yang mengingkari hal ini dan mengklaim bahwa
syariat mendustakan anggapan jin bisa masuk ke badan manusia, berarti dia telah
berdusta atas nama syariah. Karena tidak ada satupun dalil syariat yang
membantah hal itu.” (Majmu’ al-Fatawa, 24:277).
Keempat, sebab terjadinya kesurupan
Syaikhul Islam menjelaskan,
إن صرع الجن
للإنس قد يكون عن شهوة وهوى وعشق كما يتفق للإنس مع الإنس …
“Jin yang
merasuki manusia bisa saja terjadi karena dorongan syahwat atau hawa nafsu atau
karena jatuh cinta. Sebagaimana yang terjadi antara manusia dengan manusia…”
وقد يكون وهو
الأكثر عن بغض ومجازاة مثل أن يؤذيهم بعض الإنس أو يظنوا أنهم يتعمدون أذاهم إما
يبول على بعضهم وإما يصب ماءً حاراً وإما بقتل بعضهم ، وإن كان الإنس لا يعرف ذلك
، وفي الجن جهل وظلم فيعاقبونه بأكثر مما يستحقه ، وقد يكون عن عبث منهم وشر بمثل
سفهاء الإنس
“Bisa juga
terjadi karena kebencian atau kedzaliman (yang dilakukan manusia), misalnya ada
orang yang mengganggu jin atau jin mengira ada seseorang yang sengaja
mengganggu mereka, baik dengan mengencingi jin atau membuang air panas ke arah
jin atau membunuh sebagian jin, meskipun si manusia sendiri tidak
mengetahuinya. Namun jin juga bodoh dan dzalim, sehingga dia membalas kesalahan
manusia dengan kedzaliman melebihi yang dia terima. Terkadang juga motivasinya
hanya sebatas main-main atau mengganggu manusia, sebagaimana yang dilakukan
orang jelek di kalangan manusia.” (Majmu’ al-Fatawa, 19:39).
Kesimpulan:
Fenomena
kerasukan jin adalah kenyataan yang tidak mungkin dibantah. Di samping kejadian
di lapangan, realita ini juga dibuktikan dengan dalil Alquran, hadis dan
kesepakatan ulama. Satu-satunya golongan yang mengingkari realita ini adalah
mu’tazilah, dan para pemuja akal sedernhana yang mengikuti jejaknya. Ada banyak
sebab, mengapa jin merasuk ke dalam tubuh manusia, bisa karena
motivasi cinta dan bisa sebaliknya, karena kebencian.
Dijawab oleh Ustadz
Ammi Nur Baits